Rabu, 12 Maret 2014

Cerpen - Cinta di Masa Lalu (Syahrul)


Cinta di Masa Lalu

            Rasanya sudah beberapa tahun berlalu, tapi kejadian itu tak bisa luput dari ingatanku. Walau kucoba untuk menyibukkan diriku dengan pekerjaan yang ku dapat sekarang agar bisa ngelupain masa lalu itu. Namun tak mudah melupakan masa bahagia dan masa dimana aku dan dia saling duka. Di setiap malam sebelum ku gapai mimpi indahku selalu ada bayangmu terasa hadir di sisi ku. Terasa dekapanmu yang erat di tubuhku walau itu hanya perasaan ku, ku merasakannya begitu nyata, mungkin semua karna ku terlalu mencintainya.
            Vey, begitulah namamu yang selalu ku panggil kala kami bersama. Aku yang telah memenuhi isi otakku dengan namanya yang bertuliskan “Jessica Veranda Tanumihardja”. Masa pacaran 5 tahun yang telah tak dapat dikatakan lagi bagaimana rasanya, namun dapat kurasa di setiap hembusan napasku dengannya. Setelah sekarang ini, 5 tahun itu terasa begitu cepat, waktu yang cepat namun penuh dengan memori, waktu yang selalu ku selali.! Aku teringat dengan sedikit perjalanan cinta kita yang indah dan yang suram. Labirin cinta penuh dengan liku-liku namun hanya miliki sebuah ruang keluar. Aku berharap bisa melupakanmu Vey, akan tetapi sampai kapan pun aku tak bisa! Hingga akhirnya semua fikiran ku tentangmu kubiarkan mengalir bersama perasaanku.
            Masa kita masih belum saling mengenal satu sama lain ketika kita masih duduk dibangku SMA. Dirimu yang lebih tua dariku setahun, dan postur tubuhmu yang lebih tinggi dariku membuat aku dulunya minder untuk ngedekatin  kamu. Di tambah lagi satu hal yang membuat aku tak pernah percaya diri untuk ada disisimu, ya, itu adalah sainganku yang terlalu banyak. Veranda memang ibaratnya bunga yang sedang mekar, yang aura cantiknya tersebar kemana-mana namun auratnya tak pernah terumbar. Kami masih kelas 2 SMA dan di jurusan IPA dengan kelas yang sama. Sampai kami kelas 3 kami masih satu kelas. Rasa suka diriku tak pernah sedikit pun ku tunjukkan dan dia juga tak mengetahuinya, ku memendamnya karna kupikir dia takkan memilihku. Banyak orang disana yang lebih dari aku. Hingga ku pendam dalam-dalam dan kau tak pernah tau sebenarnya aku suka sama kamu Vey.
            Kelas 3 itu awal kedekatan kami, dimana guru sering membuat kami berdua sekelompok untuk mengerjakan tugas, aku yang sering main-main ke rumah Vey, aku yang selalu di samping dan menerima curhatannya, hingga aku dan Vey menjadi sahabat. Walau Dia itu primadona di sekolahan, tapi belum ada satu orang pun yang pernah jadi pacar Vey di sekolah itu mau pun di luar, aku yakin itu. Karna aku selalu dekat dengannya, aku tak tau alasannya kenapa, setiap ku tanyakan hal itu Vey hanya menjawab “suatu saat nanti kamu tau”. Dan membuat aku semakin takut untuk nyatakan cinta aku.
            Teringat aku dengan kisah Veranda yang selalu aku perhatikan dari kejauhan, saat dia  dekat dengan anak kuliahan yang ganteng dan jika di banding dengan aku sudah pasti aku kalah jauh. Lelaki itu juga sepertinya untuk cewe yang seperti Vey sudah tepat. Aku sangat kesal, akulah yang tau dan bersama Vey dari kami kelas 2, aku yang selalu membantunya mengerjakan tugas dan aku yang selalu terima curhatnya, begitu ketika aku tahu Veranda dekat dengan dia, perasaanku seperti tersayat-sayat dan ... dan... dan tak bisa di jelaskan bagaimana :v .
            Tapi tak seperti dugaanku, kupikir mereka akan bersama, namun ketika Veranda bercerita kepadaku. Hatiku seperti bunga sakura yang seketika mekar, membawa kedamaian dan ke indahan di atas penderitaan cowo itu. Soalnya, Vey menolak cowo itu karna alasan yang simple, dia engga suka.! Ingat lagi aku dengan dia ketika kami liburan. Dia tau aku bukan berasal dari keluarga yang kaya raya seperti keluarganya. Dia tau aku jika liburan hanya di rumah saja. Dan dari situ Vey mengajakku untuk liburan bersama keluarganya. Aku bingung, kenapa harus aku? Teman cewe dia ada banyak, dan kenapa harus aku seorang cowo yang ikut bersama keluarganya liburan? Aku takut nanti mereka berpikir panjang tentang aku, dan kemudian aku menolaknya! Tapi di saat itu juga Vey membujukku dan tak bisa ku jawab tidak. Kemudian Papa Vey berkata “Syahrul, sayalah yang mengajak kamu untuk liburan, sebenarnya untuk menjaga Veranda dan membuat Veranda senang di liburan kali ini, soalnya kakaknya si Jonathan lagi di luar negri.”
            Liburan bersama keluarga Tanumihardja, seperti mimpi karna penuh seharian aku dapat bersama Veranda untuk bercanda tawa ceria. Kami liburan di beberapa kota, dan yang pertama kami kunjungi adalah Kebun Binatang. Dari kandang hewan ke kandang hewan yang lainnya kami perhatikan satu persatu. Vey tampang senang, karna dia memang penyayang binatang, tiap kali dia ulang tahun juga aku selalu membelikannya hewan peliharaan dengan duit pinjaman dari teman. Kembali ke topik sebelumnya, Vey dengan riang memerhatikan satu per satu satwa disana, hingga ketika dia teriak dan seketika memeluk aku yang tepat di belakangnya. Aku terkejut dan seketika dia berkata dia takut ular. Aku tiba-tiba kaku namun tak mau membiarkan pelukkannya lepas. Ini pertama kalinya Vey memelukku, mungkin itu pun karna terpaksa soalnya dia dalam posisi ketakutan. Senangnya aku, di tempat umum di peluk cewe yang aku suka, itu sesuatu sekali. Untungnya lagi mama dan papa Veranda berada di tempat yang berbeda dengan kami saat itu, dan mereka tak melihatnya. Rezeki itu memang ga boleh di tolak, tapi ga bagus juga klo terus seperti ini, perlahan ku tenangkan dia lalu kembali memerhatikan hewan lagi, sekitar tiga jam lebih kami hanya melihat satwa dan memberinya makan.
            Esok harinya cuaca mendung jadi kami memutuskan untuk tidak keluar rumah dan cuma membakar jagung di halaman yang kebetulan memiliki atap agar tidak kehujanan. Vey kelihatan murung waktu itu karna di hari libur dia merasa jenuh. Oke skip langsung ke liburannya kedua. Liburan kedua di taman bermain, dia kelihatannya orang yang pemalu dan seperti penakut. Ternyata lebih berani dari aku untuk bermain permainan yang memacu adrenalin, satu persatu kami mainkan, aku hanya tak takut dengan 1 permainan, yaitu komedi putar. Entah berapa banyak uang Ayahnya keluar untuk menyenangkan anak bungsunya ini.
            Liburan ketiga aku terkejut, kata Ayah Vey kami akan liburan di Bali dan aku harus ikut untuk menjaga Vey di pantai dari orang-orang yang akan mengganggu Vey. Malam itu aku kepikiran terus, di pantai bersama Vey berdua, tapi walau seperti ini kami hanya sahabat. Meski begini aku bersyukur karna orang lain kalah sama aku yang bisa sedekat ini dengan Vey. Hari yang di nanti di tempat yang sangat sangat sangatlah buat aku. Vey mengajakku bermain air, dia juga mengajakku untuk berenang, tapi aku menolak karna aku tak bisa berenang, seketika dia menarikku ke air. Dia bilang ingin mengajari aku, hingga ternyata dia ingin menjahili aku, setelah tempat yang cukup dalam kira-kira hampir se-leher, dia menyelam dan menarik kaki ku. Karna aku tak bisa berenang, aku jadi klepek-klepek di air. Sampai aku meminum banyak air dan dapat berdiri kembali di air, dia terlihat tertawa dengan bahagianya. Karna dia dan di pantai itulah aku kini bisa berenang dan dapat melihat senyum lebar pertama kalinya yang seperti itu.
            Itu hanya pengalaman ketika kami liburan, masih banyak lagi. Ketika kami tamat SMA, aku mulai memutuskan untuk bekerja karna orang tuaku tidak punya cukup biasa untuk aku masuk universitas. Rasanya mukjizat hadir padaku, ternyata Ayah Vey datang kerumah dan berbicara pada orang tua ku untuk memasukkan aku ke universitas yang sama dengan Vey. Alasannya sederhana, dia tau aku tak dapat melanjutkan sekolah dan dia yakin dengan kepintaran ku di tambah lagi dia mempercayaiku untuk menjaga anaknya di universitas yang jauh dari kotanya.
            Rasanya senang, dapat lulus di universitas ternama dan satu jurusan dengan Vey,  disinilah hal-hal berbeda mulai terasa, bukan hal berbeda seperti hadirnya makhluk ghaib. Tapi rasa aneh yang banyak menyebutnya dengan nama “cinta”. Semester 1, 2, 3 berlalu seperti kami di SMA, masih ngerjai tugas bareng-bareng. Orang-orang bilang kami pacaran, dan kami hanya tersipu malu di sebut seperti itu, ya walau aku memang ingin menjadi pacarnya. Dan di semester 4 kami, aku coba berbicara serius dengannya, bahwa aku mencintainya dan ku ceritakan semua rasa yang ku pendam dalam-dalam selama bertahun-tahun kepadanya, karna aku takut dia menolak, aku katakan aku hanya ingin mengatakan itu dan tidak mengharap balasan darinya. Namun ternyata responnya positif, bukan positif hamil ya bray. Dia malah tersenyum dan berkata dia juga menyukaiku, kisah sederhana yang dulu kami cuma sekedar teman yang ternyata saling suka namun takut mengucapkan, kini telah mekar menjadi sebuah asmara.
            Semakin hari rasanya semakin hebat dengan dia yang menjadi lebih dekat denganku, masa dimana kami kuliah yang juga memiliki sejarah yang panjang sampai kami dapat sidang dan kami masing-masing telah sarjana. Kami mulai cari pekerjaan, dan kami berkerja di tempat yang berbeda, akibat itu kami jarang ketemu lagi. Entah kenapa dalam waktu hampir 5 tahun ini rasa yang kusebut “cinta” mulai berkurang pada Vey, dan aku tak menyadari bahwa Vey ternyata makin menyayangi aku. Kami memutuskan untuk cuti dan berlibur dalam waktu tiga hari, kali ini hanya aku dan dia yang pergi liburan. Di liburan ini aku menyadari aku salah karna terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan aku memutuskan akan menikahi dia dalam waktu dekat ini karena kami sudah mapan.
            Saat aku coba berbicara padanya, Vey sangat gugup, dan berkata, tanyakan pada orang tuaku saja, aku engga berani ambil keputusan yang berat seperti ini, tapi aku ingin kamu ketahui aku juga ingin menikah denganmu. Walau seperti itu, aku merasa itulah lampu hijau untukku. Satu bulan kemudian aku datang kerumahnya beserta ibuku untuk melamar Vey, temanku yang kini menjadi seseorang yang spesial setelah ibuku. Saat di rumah Vey orang tuanya seperti berbeda dari yang biasanya, aku di suruh tak mengikuti acara itu dan disuruh menemani Vey di kolam renang belakang rumahnya.
            Setelah ibu selesai berbicara tentang lamaran kami, kulihat ibu juga berbeda. Ibu tak mau menjawab sampai kami tiba di rumah. Di rumah kami yang sederhana, ibu mengatakan “kamu tidak dapat menikahi neng Veranda karena Ayahnya tidak setuju, dia sudah di calonkan dengan orang lain. Lebih baik kamu mencari pengganti si eneng. Maaf ibu ga bisa membantu banyak karna ibu memang tak bisa, dan ini tidak ada tapi-tapinya, kamu harus mengikuti kata ibu karna ini sudah kami putuskan berdua. Maafkan ibu, kali ini ibu tak bisa membantumu untuk bahagia bersama wanita idamanmu, mungkin di tempat yang lain kamu mendapatkan penggantinya”
            Setelah mendengar itu dari ibuku sendiri, aku tak dapat menuliskan apa yang kurasakan, tubuhku entah kenapa menjadi lemas walau aku tak merasakan sakit, rasanya kaki ku pun tak sanggup menopang tubuhku lagi. Aku tak percaya dengan semua ini, dan aku hanya mengikuti langkah kaki ku akan kemana, aku menuju ke kamarku, dan selama 3 hari aku tak keluar dari kamarku, aku juga tak menghubungi Vey selama aku mengurung diri. Yang aku pikirkan kenapa Orang Tua Vey begitu padaku? Apakah aku cukup hanya sekedar teman bagi Vey dimana mereka? mengapa Vey dijodohkan dengan orang lain, tapi kenapa aku tidak di kabarkan padahal orang tua Vey. Sedangkan mereka tahu aku sekarang berpacaran dengannya dan itu sudah cukup lama.
            Untuk menjawab semua pertanyaanku aku memutuskan sore ini untuk kerumah Vey. Aku akan memastikan semua perkataan ibuku adalah palsu, sebuah kebenaran yang mengada-ngada. Vey dan orang tuanya yang ku kenal selama ini tak seperti itu, aku ingin tau alasan sesungguhnya karna bagiku yang sebelumnya adalah palsu. Aku memberanikan diri datang kerumah Vey dan berbicara dengan Ayahnya. “Assalamu’alaikum” ku panggil dari gerbang rumahnya. Saat yang tepat, Ayah Vey yang keluar dan aku mengatakan ingin berbicara dengannya. Dia memperbolehkan aku masuk dan langsung aku ke poin utama. “Kenapa bukan aku yang di jodohkan dengan Vey, padahal kami sudah saling mengenal satu sama lain hampir 5 tahun lamanya, dan kenapa tidak diberi tahu kalau Vey sudah di calonkan dengan orang lain.
            Aku sungguh terkejut dengan jawaban Ayah Vey dan membuat aku rasanya hidupku semakin rumit, labirin yang kurasakan semakin luas dan semakin banyak jalan buntu nya. Begini kata Ayahnya “maaf Syahrul, sebenarnya menurut om kamulah yang layak menjadi suami Vey kelak, karna om juga tahu seberapa dekat kamu dengan Vey dan karakter kamu bagaimana. Dan soal Vey sudah di jodohkan, itu hanya kebohongan dari om”. Aku sungguh terkejut, yang kupikirkan selama ini adalah benar, sebuah kebenaran palsu yang tersirat. Dan aku coba untuk tetap diam karna ingin mendengar lanjutan perkataan Ayah Vey. Dia melanjutkan “om tidak ingin kamu sakit hati, tidak ingin kamu berkecil hati dan tidak ingin kamu kecewa, jadi om memutuskan untuk tidak menjodohkan kalian berdua, sebenarnya Veranda sedang sakit dan hari ini dia lagi terbaring dirumah sakit. Pikirannya makin tersiksa karna dia takut kamu kecewa, sebenarnya Vey sekarang menderita sebuah penyakit aneh di otaknya dan kata dokter umurnya tidak sampai satu tahun. Penyakit itu dia derita saat kecelakaan waktu itu, yang mobilnya oleng dan menabrak pohon, kamu pasti tau kecelakaan itu karna kamu juga yang 24 jam hadir di rumah sakit untuk merawatnya waktu itu. Dan sepertinya dari kemarin penyakit itu telah sampai batasnya mungkin Vey akan...” kemudian Ayahnya kelihatan mengeluarkan air mata. Sontak aku pun terkejut kemudian pikiranku kosong, yang ku tau hanya “bagaimana Jessica Veranda Tanumihardja sekarang”. Aku seketika meminta data dia di rumah sakit mana dan aku akan langsung kesana buru-buru. Tapi Ayah Vey mengajakku kesana dengannya, aku pun berkata iya.
            Tiba disana, kulihat wajah Vey yang pucat yang sedang tidur pulas. Semuanya menunggu di luar termasuk ibuku dan kakaknya yang sudah pulang dari luar negri. Hanya aku di dalam menunggu Vey, seketika aku menangis di sampingnya sambil memegang tangannya erat-erat. Vey terbangun dan melihat aku menangis di sampingnya, dia berkata “hey, kamu kenapa? Kok nangis, aku kan baik-baik aja. Aku malah seneng bisa lihat kamu disini sekarang, soalnya dari kemarin aku nungguin kamu tapi kamu engga datang”. Aku terus menangis menyesali perbuatanku, tak seharusnya aku mengurung diri di rumah waktu itu. Dia berkata lagi “hey, tolong panggilkan semua kemari dong, aku ingin kita berkumpul seperti sebuah keluarga besar”. Aku keluar dan meminta semua masuk, entah kenapa semua tampak murung dan hanya Vey yang senyum, padahal dia yang sakit.
            Vey berkata “akhirnya, aku senang semua bisa berkumpul disini sekarang, waktunya mungkin tepat ya Ayah? Ibu, aku rasa aku akan pergi tolong jangan menangis ketika aku pergi karna untuk saat terakhir ini kita sedang berbahagia. Ayah, tolong relakan aku pergi yah. Kakak juga jangan nangis, kakak yang terhebat buat aku. Emak, baru kali ini ya Vey manggil emak seperti yang biasa Syahrul panggil, tetap senyum ya mak, emak hebat punya anak yang luar biasa seperti Syahrul. Dan Syahrul, maafin aku, inilah alasan kenapa kita ga bisa nikah. Aku sayang banget sama kamu, aku ingin jadi istrimu tapi takdir ga bisa mempersatukan kita, aku ingin kamu juga jangan nangis, kali ini adalah saat bahagia kita yang terakhir jadi harus tetap senyum apapun yang terjadi. Syahrul, semoga kamu dapat yang lebih baik dari aku diluar sana nanti, aku akan bahagia disana jika yang diruangan ini ikhlas dengan kepergianku, maaf semuanya, kita ga bisa bersama di waktu yang lama. Semuanya terima kasih.”
            Seisi ruangan tampak senyum, Veranda memang telah berhenti bicara dan dia masih melihat semuanya tersenyum. Senyuman yang keluar dari kami seisi ruangan kelihatan tulus karna seperti yang Veranda bilang inilah saat bahagia kami bersama terakhir, jadi apapun yang terjadi harus tetap senyum. Mungkin ada hampir 1 jam Veranda senyum dan memerhatikan kami satu persatu sampai semua terkejut melihat Vey menutup matanya dan tak membukanya lagi. Tapi, tak ada tangisan sedikit pun di ruangan itu. Sampai akhirnya Vey di kuburkan pun tak ada tangis yang keluar. Kepergian Vey disertai dengan senyuman.
            Saat ini juga kini aku masih bekerja dan belum mempunyai istri. Aku selalu ingin melumpuhkan ingantanku tentang Veranda dan memulai hidup baru, walau pun hidup baruku termulai, tapi ingatanku tentang Vey tak bisa sirna. Aku begitu mencintai nya, dan hanya dia yang selalu ku cinta. Sampai aku pernah berpikir kapan aku bisa bertemu dengannya lagi disana?. Di setiap shalat ku berdo’a untuk dapat melupakannya dan membiarkannya tenang disana. Kulakukan itu selalu namun semakin ku berdo’a semakin panjang ingatanku tentangnya. Jessica Veranda, sosok wanita yang selalu ku cinta meski kini telah tiada.

Nama penulis : Syahrul Ramadhan
Alamat : Blang kolak II, lorong sejari, jalan Yos sudarso, Takengon, Aceh Tengah provinsi Aceh
Nomor Telepon : 085277251621
Akun jejaring sosial :   -Facebook : https://www.facebook.com/Garuda48 (syahrul)
-Twitter : https://twitter.com/MiripSyahrul (@MiripSyahrul)

Read More ->>

Labels